![]() |
| Cinta Beda Abad - Karya Fadlin Yunus |
Pagi itu, saat matahari baru menyibak kabut di ufuk timur, aku berdiri di depan cermin kecil yang tergantung di dinding kamarku. Rambutku kusut, mata sembab, dan wajahku terlihat lebih tua dari umurku yang sebenarnya. Entah berapa jam aku tidak tidur setelah membaca surat itu semalam. Jantungku masih saja berdebar setiap kali mengingat kata-kata Pak Hermawan yang begitu jujur dan tulus... terlalu tulus untuk kuabaikan, tapi juga terlalu rumit untuk kuterima.
Aku tahu, ini tak bisa berlama-lama kusimpan sendiri. Maka pagi itu juga, aku memutuskan untuk bicara... dengan Ibu Anita.
Langkahku berat ketika menuju ruang makan. Ibu Anita sedang menyesap kopi dan membaca koran. Aku berdiri agak jauh darinya, menunggu ia sadar bahwa ada aku di sana. Saat matanya mengangkat dari balik kacamata baca, aku tahu waktunya bicara.
“Ibu…” suaraku gemetar. “Saya ingin bicara... sebentar saja.”
Ia menurunkan korannya, menatapku dengan sorot tajam namun tidak marah. “Silakan.”
Aku menarik napas panjang, lalu mengucap
semuanya: tentang lamaran Pak Hermawan, tentang surat semalam, tentang
kegelisahan yang sudah berminggu-minggu bersemayam di dadaku. Aku bicara tanpa jeda, seperti
air bah yang akhirnya menemukan
celah untuk meluap.
Ibu Anita tidak langsung menjawab. Ia menatapku lama. Hening menggantung di antara kami seperti
awan hujan yang siap pecah.
“Zahra,” ucapnya akhirnya, “kau pikir aku tidak tahu semua itu?” Aku terkejut. Nafasku tercekat.
“Aku tahu sejak hari pertama ayahku mulai
memperlakukanmu... berbeda. Tapi aku memilih diam. Karena aku ingin tahu seberapa
jauh semua ini akan berjalan. Dan jujur, aku tidak marah padamu.”
Aku nyaris menangis mendengar pengakuan itu.
“Tapi, Zahra,” lanjutnya, kini dengan suara yang lebih lembut namun tegas, “aku tidak ingin ayahku terluka lagi. Dan aku tahu... kalau kau menikah dengan dia bukan karena cinta, tapi karena iba, itu akan menghancurkan kalian berdua.”
Aku tak bisa menahan air mata yang mulai mengalir.
“Maafkan saya, Bu. Saya tidak pernah berniat bermain hati. Saya hanya bingung... terlalu bingung.”
Ibu Anita bangkit dari duduknya, lalu menghampiriku. Untuk pertama kalinya, tangannya menyentuh pundakku dengan lembut.
“Kau masih muda, Zahra. Dunia masih sangat luas untukmu. Jangan kunci dirimu dalam pilihan sempit. Kalau kau ingin pergi, aku tidak akan menahanmu. Tapi kalau kau memilih tinggal, kau harus pastikan bahwa hatimu bukan sedang dikendalikan oleh rasa kasihan.”
Aku mengangguk pelan.
Hari itu juga, aku duduk sendiri di taman belakang. Mengenang masa kecilku di kampung. Ayah yang meninggalkanku dan ibu sejak aku masih balita. Ibu yang bekerja siang malam agar aku bisa sekolah. Hingga akhirnya ia jatuh sakit dan pergi... terlalu cepat.
Aku menjadi yatim piatu di usia 16. Lalu datanglah tawaran bekerja di kota. Di rumah ini. Di rumah yang kini menyimpan segala dilema hatiku.
Sore itu, aku menulis surat.
Tapi bukan untuk Pak Hermawan.
Melainkan untuk diriku sendiri.
Surat itu kuselipkan di bawah bantal, agar aku tak lupa...
Zahra, jangan pernah menikah karena rasa iba. Jangan tinggal karena takut menyakiti orang lain, tapi sakiti dirimu sendiri. Dunia tidak adil, tapi kau bisa memilih jalan yang jujur pada hatimu. Jika kau mencintainya suatu hari nanti, datanglah kembali. Tapi kalau tidak, tinggalkan dengan tenang. Kau berhak bahagia, Zahra.
Dan malam itu, aku memberanikan diri bicara pada Pak Hermawan. Di teras belakang, di bawah bulan yang malu-malu menampakkan diri di balik awan.
“Pak Hermawan,” kataku, “saya ingin pergi. Bukan karena membenci Bapak. Tapi karena saya harus menemukan siapa diri saya... tanpa berada di bawah bayang-bayang siapa pun.”
Ia terdiam. Matanya berkaca-kaca. Tapi ia mengangguk, perlahan.
“Kalau suatu hari nanti kau kembali... Bapak masih di sini,” ucapnya lirih.
Sore itu, langit menggantungkan mendung di
antara reranting pohon mangga di halaman belakang. Burung-burung tak lagi
berkicau. Seolah semua yang hidup di sekitar rumah itu tahu-ada perpisahan yang
tak bisa dicegah sedang bersiap terjadi.
Aku berdiri di sisi pintu belakang, satu koper kecil di tangan. Tak banyak yang kubawa, hanya beberapa potong pakaian, beberapa buku, dan sepucuk surat untuk diriku sendiri yang kutulis malam sebelumnya. Di halaman itu, Pak Hermawan duduk diam di bangku tua yang biasa dipakai untuk minum teh. Matanya menatap tanah basah, seakan mencari jawaban yang sejak lama telah ia tahu: aku akan pergi.
Dari balik pintu, Ibu Anita berdiri. Wajahnya tenang, tapi matanya tidak. Di dalam sorot matanya, aku menangkap sesuatu yang sulit dijelaskan. Mungkin lega. Mungkin sedih. Mungkin keduanya.
Aku melangkah mendekat, perlahan. Setiap langkah seolah menggema di telinga sendiri. Pak Hermawan menoleh. Pandangan kami bertemu. Tak ada kata yang langsung terucap. Hanya keheningan yang menggantung berat di antara kami, seperti tali tak kasat mata yang lama menjerat, dan kini harus dilepas.
“Pak Hermawan…” aku memulai dengan suara yang
nyaris pecah, “hari ini saya akan pergi. Bukan
karena benci, bukan pula karena takut. Tapi karena saya harus menemukan siapa saya... sebelum
saya menjadi milik siapa pun.”
Ia menunduk pelan. Bibirnya bergetar, tapi tak ada air mata. Ia terlalu dewasa untuk menangis, terlalu bijak untuk memaksa.
“Saya tahu perasaan Bapak tulus,” lanjutku, menahan air mata yang menggenang. “Tapi saya tak bisa menyambut cinta yang tumbuh dari kesepian, apalagi jika itu akan mengorbankan kebebasan yang baru saja mulai saya miliki.”
Pak Hermawan mengangkat wajahnya. Kali ini, matanya menatapku dalam. “Kau tahu, Zahra, mencintaimu membuatku merasa muda kembali... Tapi mencintaimu juga membuatku sadar, bahwa aku tidak boleh mengikatmu dengan rasa yang hanya aku miliki.”
Aku tersenyum kecil. “Terima kasih karena sudah jujur... dan berani. Itu lebih dari cukup.”
Beberapa langkah dariku, Ibu Anita masih berdiri diam. Aku mendekatinya. Kami bertatapan.
“Saya... minta maaf, Bu. Untuk semua ketidaknyamanan ini. Untuk membiarkan semuanya menjadi serumit ini.”
Ia menggeleng. “Zahra, kau tidak bersalah. Justru kau sudah sangat dewasa. Kau memilih jalan yang sulit, tapi benar. Ayahku... butuh seseorang seperti dirimu untuk mengingatkan, bahwa cinta tidak bisa dipaksakan, dan tidak harus selalu dimiliki.”
Tangannya menggenggam tanganku. Hangat. Nyaman. Seperti sentuhan seorang kakak yang tak pernah kumiliki.
“Kau bisa kembali kapan saja. Rumah ini... tidak akan menutup pintunya,” ucapnya lembut.
Aku mengangguk. Lalu menoleh sekali lagi ke arah Pak Hermawan. Beliau berdiri pelan, seperti ingin mengabadikan sosokku dalam ingatannya. Tak ada pelukan. Tak ada air mata. Tapi aku tahu, perpisahan ini adalah bentuk tertinggi dari cinta: melepaskan, tanpa membenci.
Dengan langkah perlahan, aku berjalan ke luar gerbang. Dunia di luar sana menungguku-dunia yang belum kupahami, tapi harus kutelusuri sendiri. Di dadaku, masih ada rasa sesak.
Tapi bukan karena
menyesal. Melainkan karena
sadar, aku telah
berani mengambil keputusan
untuk diriku sendiri.
Sesampainya di halte kecil tak jauh dari rumah, aku duduk dan menarik napas panjang. Angin sore berhembus pelan, menyapu rambutku. Aku membuka dompet kecil dan mengeluarkan kertas lusuh yang kuselipkan tadi pagi: sepucuk surat untuk diriku sendiri.
Zahra,
Jangan pernah menikah karena kasihan. Jangan tinggal karena takut menyakiti orang lain, tapi malah menyakiti dirimu sendiri.
Dunia memang tidak selalu adil, tapi kau bisa memilih untuk jujur pada hatimu. Jika suatu hari kau mencintainya, kembalilah. Tapi jika tidak, berjalanlah terus. Kau berhak bahagia.
Aku menutup mata. Dalam gelap yang damai itu, aku tahu satu hal: aku belum tahu ke mana tujuan akhir langkahku, tapi aku sudah menemukan arah.
Dan itu... cukup untuk hari ini.
Belum baca awal cerita? Klik Part 1 di sini
.png)
Tidak ada komentar