cerpen

Saat Hening Mulai Berarti – Novel Ruang Sunyi Kita Part 2 (Kisah Damar & Anindya)

Mei 04, 2026
0 Komentar
Beranda
cerpen
Saat Hening Mulai Berarti – Novel Ruang Sunyi Kita Part 2 (Kisah Damar & Anindya)

Dirga sering terlihat membantu Anindya memahami proses kerja di lapangan. Kadang, kalau ada dokumen yang harus diantar ke bagian sekretariat, Anindya akan datang ke mejaku, dan kami berbincang singkat.

Suatu sore, ketika jam kantor hampir selesai, aku dan Dirga duduk di bangku depan kantor sambil menunggu hujan reda. Tiba-tiba, Anindya keluar, menenteng payung lipat berwarna hijau muda.

Anindya: “Mas Damar, Mas Dirga… nggak pulang?”

Aku: “Nunggu hujan reda dulu, Mbak.”

Dirga: “Iya nih. Kalau ujan gini naik motor basah semua.”

Anindya: tersenyum “Kalau mau, bisa nebeng payung ke halte depan, lho.”

Dirga langsung melirikku sambil menahan tawa.

Dirga: “Tuh kan, Mar… rezeki orang baik.”

Aku: mendengus “Udah, Ga…”

Momen sederhana seperti itu membuat hari-hari di kantor terasa lebih hidup. Aku tetaplah Damar yang pendiam dan jarang bergaul, sementara Dirga tetap sosok santai yang mudah akrab dengan siapa saja. Tapi kehadiran Anindya… entah kenapa membuat rutinitas yang biasa-biasa saja menjadi sedikit berbeda.

Hari-hari berikutnya, kantor terasa lebih ramai.

Anindya ternyata cepat berbaur. Hanya dalam hitungan hari, ia sudah akrab dengan teman-teman di- operasional: Indira, Nayara, dan beberapa karyawan lain yang memang terkenal hangat.

Setiap jam istirahat, aku sering melihat mereka tertawa bersama di pantry atau duduk bergerombol di meja operasional. Dirga, tentu saja, selalu ada di tengah mereka. Suaranya yang renyah bercampur dengan tawa Nayara dan komentar lucu Indira, membuat suasana kantor lebih hidup dari biasanya.

Sementara aku?

Seperti biasa, tetap di balik meja sekretariat. Posisiku yang terpisah oleh pembatas kaca bening membuatku hanya bisa melihat sekilas momen itu dari jauh. Sesekali, ketika Anindya lewat membawa dokumen atau sekadar mengantar laporan ke ruang meeting, kami saling tersenyum singkat.

“Pagi, Mas Damar,” sapanya setiap kali lewat.

“Pagi, Mbak,” jawabku, seringkali hanya sambil menunduk sedikit.

Dan setelah itu, kembali hening.

Kadang aku bisa mendengar tawa mereka dari balik kaca, terdengar samar tapi cukup jelas untuk membuatku melirik sekilas. Ada bagian dari diriku yang ingin ikut tertawa, tapi entah kenapa kakiku enggan melangkah ke sana.

Sore itu, Dirga kembali mampir ke mejaku sebelum pulang.

Dirga: “Mar, lo nggak bosen apa kerja di sini cuma diem aja?”

Aku: menutup laptop “Bosen sih… tapi gue nggak suka rame-rame.”

Dirga: tertawa kecil “Pantes aja lo jarang keliatan sama Anindya. Nih anak udah luwes banget sama kita di operasional. Seru tau.”

Aku: tersenyum tipis “Ya baguslah… berarti lo makin rame temennya.”

Dirga: “Iya sih. Tapi lo juga harusnya ikutan lah sesekali. Biar nggak jadi patung di meja sekretariat.”

Aku hanya geleng-geleng sambil membereskan meja. Entah kenapa, ada rasa yang sulit dijelaskan, bukan iri, bukan cemburu. Hanya semacam… rasa asing di tengah keramaian yang tiba-tiba terbentuk di luar ruanganku.

Hari itu, aku baru saja menyelesaikan laporan mingguan ketika Pak Aksel tiba-tiba memanggilku ke ruangannya.

Pak Aksel: “Mar, saya butuh bantuan. Besok ada pengecekan inventaris gudang. Petugas Inventaris lagi sibuk, jadi kamu ikut bantu tim operasional, ya.”

Aku: mengernyit “Eeh… saya, Pak? Tapi saya kan…”

Pak Aksel: memotong dengan senyum “Saya tahu, kamu bukan tim operasional. Tapi kamu teliti, dan saya butuh orang yang bisa mencatat dengan rapi. Lagian cuma sehari. Bisa, kan?”

Aku: menghela napas “Baik, Pak. Saya coba.”

Keluar dari ruangan, aku langsung disambut Dirga yang seolah sudah menebak isi pembicaraan.

Dirga: “Nah, kan! Akhirnya lo turun ke lapangan juga.”

Aku: “Iya… katanya cuma sehari. Gue cuma nyatat doang, Ga.”

Dirga: nyengir “Tetep aja. Siap-siap disambut geng operasional, tuh.”

Keesokan harinya, aku datang lebih pagi dari biasanya. Gudang berada di belakang gedung utama, dengan ruang penyimpanan yang cukup luas. Begitu tiba, aku melihat Dirga, Indira, Nayara, dan Anindya sudah berkumpul di sana.

Dirga: “Nah, ini dia sekretaris andalan kita!”

Indira: tertawa “Wih, jarang-jarang Mas Damar nongol di sini.”

Nayara: “Iya, biasanya cuma kelihatan di balik kaca doang.”

Aku tersenyum kaku sambil menaruh buku catatan di meja lipat yang disiapkan.

Anindya mendekat sambil membantuku menyusun berkas inventaris.

Anindya: “Mas Damar nggak apa-apa kan, ikut ke gudang? Agak berdebu sih.”

Aku: tersenyum singkat “Nggak apa-apa. Selama cuma nyatat, aman.”

Dirga: dari belakang “Wih, liat tuh… baru mulai aja udah ada partner kerjanya.”

Anindya menunduk malu sambil tertawa kecil, sementara aku hanya menghela napas mendengar godaan Dirga.

Aktivitas pengecekan pun dimulai. Dirga dan tim operasional memindai barang satu per satu, menghitung stok, sementara aku menuliskan data ke lembar laporan. Sesekali Anindya menyodorkan catatan tambahan atau menanyakan format pencatatan yang kubuat.

Anehnya, meski awalnya merasa canggung, perlahan suasana itu terasa… menyenangkan. Tidak ada sekat kaca yang membatasi. Tidak ada rasa asing. Hanya tawa ringan, suara rak yang digeser, dan momen sederhana ketika aku menyadari bahwa aku sebenarnya bisa menyatu dengan mereka..... jika aku mau.

Sore harinya, ketika pengecekan selesai, Dirga menepuk pundakku.

Dirga: “Gimana, Mar? Seru kan? Sekali-sekali turun ke dunia gue.”

Aku: tersenyum tipis “Lumayan. Capek sih, tapi… nggak seburuk yang gue kira.”

Dirga: “Tuh kan. Hati lo kan cuma perlu dibuka dikit.”

Anindya: menambahkan pelan “Iya, Mas. Senang bisa kerja bareng tadi.”

Aku hanya mengangguk, dan entah kenapa, rasa lelah itu terasa ringan. Mungkin… karena hari itu berbeda dari biasanya.

Sore itu, setelah pengecekan gudang selesai dan laporan rapi di tangan Pak Aksel, Dirga mengajakku keluar.

Dirga: “Mar, ayo ikut. Kita ke kafe bentar. Tim operasional udah nungguin di depan.”

Aku: menghela napas “Hmm… ya udah, deh.”

Kami berjalan ke kafe kecil di seberang gedung kantor. Tempatnya sederhana, dengan aroma kopi yang langsung menyambut saat pintu dibuka. Di sudut ruangan, Indira, Nayara, dan Anindya sudah duduk di meja panjang, gelas es kopi dan camilan kecil berjejer di hadapan mereka.

Indira: “Nah, ini dia tamu spesial kita hari ini!”

Nayara: tertawa “Mas Damar akhirnya nongol di luar jam kantor juga.”

Aku: tersenyum tipis “Hehe… iya, kebetulan diajak Dirga.”

Aku duduk di ujung meja, membiarkan mereka berbincang ramai.

Dirga, seperti biasa, jadi pusat perhatian. Ia menceritakan kejadian lucu di gudang tadi, tentang Nayara yang hampir jatuh karena tersandung kardus, lalu tentang aku yang katanya terlalu serius menulis angka sampai nggak sadar dipanggil tiga kali.

Dirga: “Sumpah, si Damar tuh kayak patung. Gue panggil tiga kali, dia cuma ngelirik terus balik lagi ke catatan.”

Nayara: tertawa keras “Iya, iya! Aku liat juga. Fokus banget kayak lagi ujian nasional!”

Anindya: menutup mulut menahan tawa “Hehe… tapi berkat Mas Damar, data kita rapi semua.”

Aku hanya menggeleng pelan, tersenyum kecil sambil menyesap kopi hangat di hadapanku. Suara tawa mereka mengisi sore itu, membuat suasana terasa ringan.

Di luar jendela kafe, langit kota mulai memerah. Cahaya matahari sore memantul di kaca gedung-gedung tinggi, seperti kilau emas yang perlahan tenggelam.

Aku menyandarkan punggung di kursi, membiarkan pandangan menatap mereka yang tertawa lepas. Aku tidak banyak bicara. Tidak ikut melempar candaan seperti Dirga, atau tertawa sekeras Nayara.

Siapa sangka, satu berkas sederhana bisa jadi awal dari sesuatu yang belum kumengerti?

Sore itu, aku sadar satu hal sederhana

Kadang, hidup tidak berubah lewat kejadian besar. Tidak lewat pertemuan dramatis, atau kalimat manis. Kadang, cukup lewat satu senyum yang datang tanpa rencana. Satu nama yang tiba-tiba mulai sering terlintas di kepala.

Anindya...

Begitulah semuanya dimulai. Bukan dengan janji, bukan dengan kata cinta, tapi dengan diam yang perlahan membuat dunia kecilku tak lagi sama.

“Kadang, kebahagiaan tidak selalu tentang menjadi pusat tawa, tapi cukup duduk di sudut meja, melihat mereka tertawa, dan merasa hari itu lebih hangat dari biasanya”


Aku tidak tahu apa arti semua ini.

Apakah ini hanya kebetulan?

Atau awal dari sesuatu yang lebih dalam?

Yang jelas…

untuk pertama kalinya,

ruang sunyi itu… tidak terasa sepi lagi.


Baca Part 1 disini : 
Ketika Pagi Berbelok Arah

Beli Buku Novelnya Klik Disini

Tidak ada komentar