![]() |
| Cinta Beda Abad - Karya Fadlin Yunus |
Tubuhku terhempas begitu saja di atas kasur tipis yang mulai usang di kamar kecil berukuran 3x4 meter ini. Rasa lelah menjalar dari ujung rambut hingga kaki, seperti lilitan tali yang semakin mengencang. Seharian bekerja sebagai asisten rumah tangga di rumah besar milik ibu Anita sungguh menguras tenaga dan hati. Tapi hari ini, bukan hanya pekerjaan yang membuatku letih. Ada sesuatu yang lebih melelahkan-sesuatu yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.
Aku masih ingat jelas detik-detik tadi sore. Saat aku sedang berbicara dengan Pak Hermawan di ruang tengah, ibu Anita tiba-tiba lewat. Degup jantungku langsung berpacu, seperti genderang perang yang ditabuh mendadak. Aku tak tahu, apakah beliau mendengar pembicaraan kami? Atau... hanya kebetulan lewat? Tapi hatiku sudah lebih dulu berprasangka.
Kuhela napas panjang, membiarkannya mengalir pelan ke langit-langit kamar yang dipenuhi bercak-bercak lembap. Pandanganku kosong, pikiranku kacau. Kata-kata Pak Hermawan tadi terus terngiang dalam benakku.
"Zahra, maukah kau menikah denganku?"
Aku menggigit bibir. Menertawakan betapa tidak masuk akalnya permintaan itu. Aku-seorang gadis 19 tahun yang hanya seorang pembantu rumah tangga- dilamar oleh pria seusia ayahku, yang tak lain adalah ayah dari majikanku sendiri.
“Tidak... Aku tidak mungkin menikah dengan Pak Hermawan,” gumamku pelan, nyaris seperti doa agar dunia mengerti betapa mustahilnya itu.
Suara gawainya yang tiba-tiba berdering membuatku tersentak. Kupalingkan wajah, dan nama itu muncul di layar: Pak Hermawan. Panik melanda. Segera kumatikan ponsel itu. Napasku memburu.
"Habislah aku kalau ibu Anita tahu soal ini," kataku sembari memejamkan mata. Keringat dingin mulai merembes meski angin malam cukup dingin menerobos ventilasi.
Aku tak pernah menyangka... sungguh tak pernah. Pak Hermawan, lelaki berusia 62 tahun yang sudah sepuluh tahun hidup menduda karena istri tercintanya meninggal dalam kecelakaan pesawat, ternyata menyimpan rasa padaku. Rasa yang tak seharusnya ada. Bukan karena perbedaan usia yang menjulang seperti tebing curam—bukan. Tapi karena posisi kami. Aku hanya pembantu di rumah anak perempuannya. Betapa janggal dunia jika aku benar-benar menerima lamaran itu.
Kuteguk air putih dari gelas yang tadi sempat kutaruh di meja kecil samping tempat tidur. Segarnya mengalir ke tenggorokan, sedikit menenangkan badai yang mengamuk di dalam dada.
"Haaa... Untung ibu Anita tidak mendengar pembicaraan kami," desisku, berusaha meyakinkan diri. Tapi rasa takut itu belum sepenuhnya pergi. Ia masih mengintai seperti bayangan yang tak bisa diusir lampu.
Pikiran ini terlalu gaduh malam ini. Aku menyelami setiap celah, mencoba mencari celah logika dalam kekacauan rasa. Tapi suara ketukan di pintu kamarku tiba-tiba membuyarkan semuanya.
Tok... tok...
Jantungku melonjak. Aku menegang. Tidak salah lagi, hanya satu orang yang mungkin datang malam-malam begini.
“Ada apa lagi, Pak Hermawan? Sudah malam bukannya tidur, malah masih saja menggangguku,” gumamku dengan nada kesal, meski dalam hati ada ketakutan yang tak bisa kusebutkan.
Kupaksa kakiku bergerak menuju pintu. Setiap langkah terasa berat, seperti menuju ruang penghakiman. Dan saat kusibakkan pintu, sepasang mata penuh bara menatapku tajam. Mata itu—mata ibu Anita.
Seluruh tubuhku terasa seperti disengat listrik. Nafasku tercekat. Rasa dingin menyergap seluruh persendianku. Wajah ibu Anita terlihat... berbeda. Tegang. Marah. Atau justru curiga?
“Ini dia... saatnya aku diusir,” batinku panik. Aku menunduk. Tak sanggup menatap wajahnya.
Namun tiba-tiba, seberkas kelegaan merambat pelan ke wajahku. Suaranya terdengar terburu-buru, panik, tapi bukan karena hal yang kutakutkan.
"Zahra,
cepat kau tebus obat ini di apotik!" ucapnya sambil menyodorkan secarik kertas resep. "Alya demam. Tolong, segera
ya."
Aku mengangguk cepat. Mulutku masih kelu. Dengan tangan gemetar, kuambil kertas itu dan segera berlari keluar, membelah dinginnya malam.
Saat langkahku menjauh dari rumah itu, mataku
mulai berkaca. Bukan karena lega... bukan pula karena takut. Tapi karena hatiku
semakin tersesat dalam keruwetan rasa. Antara takut, bingung, dan... sedikit
saja—sedikit—aku merasa kasihan pada Pak Hermawan. Dalam sepi yang
mengungkungnya, aku hadir seperti oase. Tapi aku tak ingin menjadi pelarian
dari sunyinya, apalagi jika harus menghancurkan dunia yang telah menjadi
tempatku mencari penghidupan.
Malam ini, langit tampak penuh bintang. Tapi tidak satu pun bintang bisa menjawab, harus ke mana perasaan ini dibawa.
Malam itu, setelah kembali dari apotek dengan napas yang memburu dan telapak tangan yang dingin oleh udara malam, aku mendapati rumah sudah sepi. Anak ibu Anita sudah tertidur, dan ibu sendiri sedang menyelimuti tubuh mungil itu dengan penuh kasih. Aku hanya berdiri sejenak di balik pintu kamar mereka, memandangi bagaimana seorang ibu merawat buah hatinya.
Seketika hatiku nyeri. Ibu... Seandainya Ibu masih hidup, mungkin aku tak akan harus menjalani hidup seberat ini. Tak harus merantau ke kota, menjadi pembantu di usia belia, dan menghadapi kenyataan aneh seperti ini—dilamar oleh ayah majikanku sendiri.
Aku menarik selimut di atas tubuhku, memejamkan mata, mencoba tidur. Tapi malam terasa panjang. Gelisah seperti selimut lain yang membungkus tubuhku rapat-rapat. Tak bisa kubohongi diriku sendiri. Sejak hari itu, sejak lamaran itu, aku tak lagi bisa menatap Pak Hermawan seperti biasa.
Pagi pun datang, dan aku menjalankan tugas seperti biasa: menyapu, mencuci piring, menyiapkan sarapan. Dan saat sedang menyiram bunga di halaman belakang, langkah kaki yang kukenal mendekat. Aku pura-pura tak sadar, tapi suara berat itu tak bisa disembunyikan.
“Zahra…”
Aku menghentikan gerakan tanganku. Jantungku langsung berpacu. Aku tahu, cepat atau lambat, percakapan ini harus terjadi lagi.
“Bapak minta maaf,” katanya, suaranya dalam, pelan, seperti tak ingin terdengar orang lain. “Bapak tak seharusnya berkata begitu kemarin. Tapi Bapak juga tak bisa membohongi perasaan Bapak sendiri.”
Aku masih membelakangi beliau. Tak berani menatap.
“Pak Hermawan, saya ini hanya pembantu rumah tangga. Saya tinggal di rumah anak Bapak. Bahkan untuk sekadar menatap mata Bapak saja saya ragu—karena saya tahu, saya bukan siapa-siapa di rumah ini.”
“Tapi kau adalah seseorang bagi hati ini, Zahra.”
Aku menahan napas. Kalimat itu begitu sederhana... tapi menghantam.
“Kenapa saya?” tanyaku lirih. “Bapak bisa punya siapa saja. Wanita seumur Bapak. Yang bisa diajak bicara, punya kehidupan sepadan. Bukan... saya.”
“Apa salahnya mencintai karena hati, bukan karena umur atau status?” ucapnya lirih.
Aku memalingkan wajah. Langit pagi begitu cerah, kontras sekali dengan hatiku yang kelabu. Aku tak bisa marah. Tapi aku juga tak bisa menerima. Aku kasihan padanya... terlalu kasihan. Itu yang membuatku takut. Jangan-jangan, perasaan ini akan menjelma jadi cinta yang tak seharusnya tumbuh.
Hari-hari berikutnya berjalan aneh. Aku dan Pak Hermawan seperti hidup dalam bayang-bayang satu sama lain. Ibu Anita tak menunjukkan perubahan sikap. Itu melegakan... tapi juga mengerikan. Karena aku tak tahu, apakah beliau benar-benar tidak tahu... atau sedang menunggu ledakan waktu.
Dan akhirnya, pada suatu malam, saat aku sedang melipat cucian, sebuah amplop kecil tergelincir dari tumpukan pakaian Pak Hermawan.
Nama kecilku tertulis di atasnya, dengan tulisan tangan yang kukenal. Dengan jari gemetar, aku membukanya.
Isi surat itu sederhana, hanya beberapa baris tulisan yang menusuk:
Zahra, tak usah jawab hari ini, esok, atau bulan depan. Aku hanya ingin kau tahu, aku mencintaimu bukan karena aku kesepian, tapi karena hatiku merasa damai saat melihatmu. Jika kau tak bisa menerimaku, tak apa. Aku hanya ingin kau tahu, perasaan ini nyata.
-Hermawan
Surat itu jatuh ke pangkuanku. Mataku memanas. Tidak. Ini tidak boleh terus begini. Aku harus memilih. Bukan untuk dia. Tapi untuk diriku sendiri. Untuk hidup yang ingin kujalani tanpa bayang-bayang, tanpa rahasia. Tapi... apakah aku cukup kuat menolak seseorang yang begitu tulus, saat yang lain hanya melihatku sebagai pembantu tak bernama?
Lanjut ke Part 2: Surat yang Mengubah Segalanya

1 komentar