cerpen

Ketika Pagi Berbelok Arah – Novel Ruang Sunyi Kita Part 1 (Kisah Damar & Anindya)

Mei 03, 2026
0 Komentar
Beranda
cerpen
Ketika Pagi Berbelok Arah – Novel Ruang Sunyi Kita Part 1 (Kisah Damar & Anindya)


Pendahuluan

Novel Ruang Sunyi Kita menghadirkan kisah tentang Damar, seorang pekerja kantoran yang hidup dalam rutinitas monoton. Namun suatu hari, sebuah berkas lamaran mengubah arah hidupnya secara perlahan. Pada bagian pertama ini, kita mulai mengenal bagaimana semuanya bermula.

Ketika Pagi Berbelok Arah

Pagi selalu datang dengan cara yang sama, sunyi, beraroma kopi, dan sedikit terburu - buru. Di meja sekretariat, aku sudah duduk sejak jam tujuh lewat lima belas. Tumpukan dokumen, bunyi kipas angin, dan denting jam dinding di pojok ruangan menjadi teman paling setia setiap awal minggu.

Aku tidak pernah menganggap pekerjaanku istimewa. Menjawab telepon, memeriksa email, mencatat agenda rapat, semuanya berjalan seperti garis lurus yang tak pernah berubah arah.

Sampai pada suatu hari, garis itu sedikit berbelok. Hari itu tidak diawali dengan sesuatu yang besar, tidak juga dengan kabar mengejutkan.

Hanya permintaan sederhana dari atasanku, dan satu berkas lamaran yang tampak seperti biasa.Tapi, siapa sangka… dari selembar kertas itulah, hidupku perlahan berubah arah.

Semuanya berawal dari Anindya.

Hari itu aku sedang asyik memeriksa email di meja sekretariat ketika tiba-tiba Pak Aksel, atasan langsungku, datang menghampiri.

Pak Aksel: “Mar, tolong ini ya, periksa berkas lamaran untuk bagian operasional.”

Aku: mengernyit “Eh… untuk operasional, Pak? Saya kan bukan HRD.”

Pak Aksel: tersenyum “Iya, saya tahu. Tapi kamu teliti, dan saya butuh pendapatmu. Lagian, HRD lagi sibuk. Bisa, kan?”

Aku: mengangguk pelan “Iya, Pak. Nanti saya periksa.”

Seperti biasa, aku tidak bisa menolak. Pak Aksel memang sering memintaku membantu hal-hal di luar job desk-ku. Tapi selama aku bisa, aku selalu mengiyakan.

Begitu beliau pergi, aku membuka map berkas di tanganku. Beberapa lembar fotokopi ijazah, sertifikat, dan CV rapi tersusun di dalamnya.

“Hmm… calon karyawan cewek…” gumamku pelan sambil membalik halaman.

Foto 3x4 di pojok kanan atas menatap balik ke arahku. Cantik. Berhijab, senyum tipis yang entah kenapa terasa ramah. Aku mendengus kecil sambil tersenyum sendiri.

“Lumayan juga, ya…” ucapku lirih, nyaris seperti berbicara pada diriku sendiri.

Tiba-tiba terdengar suara di belakangku.

Dirga: menyandarkan siku di partisi mejaku “Eh, Mar… senyum-senyum sendiri. Lagi baca apaan tuh?”

Aku: sedikit terkejut, buru-buru menutup map “Hah? Oh… ini berkas lamaran karyawan baru.”

Dirga: penasaran, mendekat sambil mengintip “Hmm… cewek, ya?”

Aku: berdehem kecil “Iya. Lumayan…”

Dirga: mengambil map dari tanganku “Eh, ini buat operasional, ya? Wih, bisa jadi temen gue nih nanti kalau keterima.”

Aku: menghela napas, tersenyum tipis “Iya, iya… semoga aja. Biar lo tambah rame temennya.”

Dirga: terbahak pelan “Hahaha… Asik. Nanti lo juga ada temen senyum-senyum di kantor.”

Aku: geleng-geleng “Apaan sih…”

Aku hanya geleng-geleng sambil menutup map itu, tapi diam-diam senyumku belum hilang.

Dua hari kemudian, pagi-pagi sekali, aku sudah duduk di meja sekretariat ketika telepon kantor berbunyi.

Aku: “Halo, selamat pagi. Dengan kantor PT Cipta Budie?”

Suara di Telepon: “Pagi, Kak. Saya Anindya… jadwal interview operasional hari ini, ya?”

Aku: “Oh, iya. Silakan datang saja ke resepsionis, nanti diarahkan ke ruang saya.”

Tak lama kemudian, suara pintu otomatis berbunyi.

Seorang perempuan masuk, langkahnya tenang dan rapi. Ia mengenakan gamis biru pastel dan hijab krem sederhana yang terlipat rapi di bahunya. Wajahnya bersih, dan senyumnya sopan. Rambutnya tentu tersembunyi di balik hijab, tapi aura ramahnya tetap terasa.

Aku spontan mengenalinya dari foto di berkas lamaran. Anindya.

Di balik meja sekretariat, aku refleks duduk lebih tegap. Sementara di sampingku, Dirga baru saja datang dari lobi, membawa gelas kopi. Ia melirik perempuan itu dengan tatapan penasaran.

Anindya: tersenyum sopan “Assalamualaikum, Mas. Saya Anindya… jadwal interview operasional hari ini.”

Aku: bangkit dari kursi, berusaha terdengar ramah “Waalaikumsalam. Silakan isi daftar hadir dulu, Mbak, nanti saya antar ke ruang HRD.”

Anindya mengangguk, kemudian menunduk sedikit saat menulis di buku tamu. Gerak-geriknya anggun, tenang, berbeda dari kebanyakan pelamar yang terlihat gugup.

Dirga, yang sejak tadi berdiri di sampingku, tiba-tiba menyenggol sikuku pelan sambil berbisik,

Dirga: “Ini yang kemarin bikin lo senyum-senyum, ya?”

Aku: mendesis pelan “Ssst.. diem, Ga. Ntar kedengeran.”

Dirga: nyengir lebar “Wah, kalau keterima, kantor makin adem nih…”

Aku hanya menatapnya sekilas dan mengantar Anindya ke ruang HRD. Dalam hati, entah kenapa, aku merasa pagi itu sedikit berbeda. Suasana kantor yang biasanya datar terasa… lebih hangat.

Seminggu kemudian, nama Anindya resmi terpampang di papan pengumuman karyawan baru. Sejak hari pertama, suasana kantor terasa sedikit berbeda.

Pagi itu, aku sudah duduk di meja sekretariat, merapikan agenda rapat mingguan, ketika suara langkah lembut terdengar mendekat.

Anindya: tersenyum sopan “Assalamualaikum, Mas Damar.”

Aku: menoleh dan membalas senyum “Waalaikumsalam, Mbak Anindya. Hari pertama, ya? Semangat!”

Anindya: tertawa kecil “Iya, Mas. Deg-degan juga, sih…”

Beberapa menit kemudian, Dirga muncul dari arah lobi sambil menenteng helm dan jaket. Begitu melihat Anindya, matanya langsung berbinar jahil.

Dirga: “Wah, ini dia bintang baru operasional kita!”

Anindya: menunduk malu “Hehe… jangan gitu, Mas.”

Aku: menggeleng pelan “Ga, jangan bikin takut orang hari pertama kerja.”

Dirga: tertawa “Santai aja, Mar. Kita kan ramah semua di sini.”

Hari-hari setelah itu berjalan dengan ritme baru.

Penutup

Bagian ini menggambarkan awal perubahan dalam hidup Damar. Dari rutinitas yang monoton, sebuah kejadian sederhana menjadi titik awal cerita yang lebih besar.

Ini baru permulaan. Ada banyak hal yang belum Damar ceritakan… semuanya tersimpan dalam “Ruang Sunyi Kita”.

Baca Part Lainnya :

Tidak ada komentar