Dirga sering terlihat membantu Anindya memahami proses kerja di lapangan. Kadang, kalau ada dokumen yang harus diantar ke bagian sekretariat, Anindya akan datang ke mejaku, dan kami berbincang singkat.
Suatu sore, ketika
jam kantor hampir selesai, aku dan Dirga duduk di bangku depan kantor sambil
menunggu hujan reda. Tiba-tiba, Anindya keluar, menenteng payung lipat berwarna
hijau muda.
Anindya: “Mas Damar,
Mas Dirga… nggak pulang?”
Aku: “Nunggu hujan
reda dulu, Mbak.”
Dirga: “Iya nih.
Kalau ujan gini naik motor basah semua.”
Anindya: tersenyum “Kalau mau, bisa nebeng payung
ke halte depan, lho.”
Dirga langsung
melirikku sambil menahan tawa.
Dirga: “Tuh kan, Mar…
rezeki orang baik.”
Aku: mendengus “Udah, Ga…”
Momen sederhana
seperti itu membuat hari-hari di kantor terasa lebih hidup. Aku tetaplah Damar
yang pendiam dan jarang bergaul, sementara Dirga tetap sosok santai yang mudah
akrab dengan siapa saja. Tapi kehadiran Anindya… entah kenapa membuat rutinitas
yang biasa-biasa saja menjadi sedikit berbeda.
Hari-hari berikutnya,
kantor terasa lebih ramai.
Anindya ternyata
cepat berbaur. Hanya dalam hitungan hari, ia sudah akrab dengan teman-teman di-
operasional: Indira, Nayara, dan beberapa karyawan lain yang memang terkenal
hangat.
Setiap jam istirahat,
aku sering melihat mereka tertawa bersama di pantry atau duduk bergerombol di
meja operasional. Dirga, tentu saja, selalu ada di tengah mereka. Suaranya yang
renyah bercampur dengan tawa Nayara dan komentar lucu Indira, membuat suasana
kantor lebih hidup dari biasanya.
Sementara aku?
Seperti biasa, tetap
di balik meja sekretariat. Posisiku yang terpisah oleh pembatas kaca bening
membuatku hanya bisa melihat sekilas momen itu dari jauh. Sesekali, ketika
Anindya lewat membawa dokumen atau sekadar mengantar laporan ke ruang meeting,
kami saling tersenyum singkat.
“Pagi,
Mas Damar,” sapanya setiap kali lewat.
“Pagi,
Mbak,” jawabku, seringkali hanya sambil
menunduk sedikit.
Dan setelah itu,
kembali hening.
Kadang aku bisa
mendengar tawa mereka dari balik kaca, terdengar samar tapi cukup jelas untuk
membuatku melirik sekilas. Ada bagian dari diriku yang ingin ikut tertawa, tapi
entah kenapa kakiku enggan melangkah ke sana.
Sore itu, Dirga
kembali mampir ke mejaku sebelum pulang.
Dirga: “Mar, lo nggak
bosen apa kerja di sini cuma diem aja?”
Aku: menutup laptop “Bosen sih… tapi gue
nggak suka rame-rame.”
Dirga: tertawa kecil “Pantes aja lo jarang
keliatan sama Anindya. Nih anak udah luwes banget sama kita di operasional.
Seru tau.”
Aku: tersenyum tipis “Ya baguslah… berarti lo
makin rame temennya.”
Dirga: “Iya sih. Tapi
lo juga harusnya ikutan lah sesekali. Biar nggak jadi patung di meja
sekretariat.”
Aku hanya
geleng-geleng sambil membereskan meja. Entah kenapa, ada rasa yang sulit
dijelaskan, bukan iri, bukan cemburu. Hanya semacam… rasa asing di tengah
keramaian yang tiba-tiba terbentuk di luar ruanganku.
Hari itu, aku baru
saja menyelesaikan laporan mingguan ketika Pak Aksel tiba-tiba memanggilku ke
ruangannya.
Pak Aksel: “Mar, saya
butuh bantuan. Besok ada pengecekan inventaris gudang. Petugas Inventaris lagi
sibuk, jadi kamu ikut bantu tim operasional, ya.”
Aku: mengernyit “Eeh… saya, Pak? Tapi saya
kan…”
Pak Aksel: memotong dengan senyum “Saya tahu, kamu
bukan tim operasional. Tapi kamu teliti, dan saya butuh orang yang bisa
mencatat dengan rapi. Lagian cuma sehari. Bisa, kan?”
Aku: menghela napas “Baik, Pak. Saya coba.”
Keluar dari ruangan,
aku langsung disambut Dirga yang seolah sudah menebak isi pembicaraan.
Dirga: “Nah, kan!
Akhirnya lo turun ke lapangan juga.”
Aku: “Iya… katanya
cuma sehari. Gue cuma nyatat doang, Ga.”
Dirga: nyengir “Tetep aja. Siap-siap disambut
geng operasional, tuh.”
Keesokan harinya, aku
datang lebih pagi dari biasanya. Gudang berada di belakang gedung utama, dengan
ruang penyimpanan yang cukup luas. Begitu tiba, aku melihat Dirga, Indira,
Nayara, dan Anindya sudah berkumpul di sana.
Dirga: “Nah, ini dia
sekretaris andalan kita!”
Indira: tertawa “Wih, jarang-jarang Mas Damar
nongol di sini.”
Nayara: “Iya,
biasanya cuma kelihatan di balik kaca doang.”
Aku tersenyum kaku
sambil menaruh buku catatan di meja lipat yang disiapkan.
Anindya mendekat
sambil membantuku menyusun berkas inventaris.
Anindya: “Mas Damar
nggak apa-apa kan, ikut ke gudang? Agak berdebu sih.”
Aku: tersenyum singkat “Nggak apa-apa. Selama
cuma nyatat, aman.”
Dirga: dari belakang “Wih, liat tuh… baru mulai
aja udah ada partner kerjanya.”
Anindya menunduk malu
sambil tertawa kecil, sementara aku hanya menghela napas mendengar godaan
Dirga.
Aktivitas pengecekan
pun dimulai. Dirga dan tim operasional memindai barang satu per satu,
menghitung stok, sementara aku menuliskan data ke lembar laporan. Sesekali
Anindya menyodorkan catatan tambahan atau menanyakan format pencatatan yang
kubuat.
Anehnya, meski
awalnya merasa canggung, perlahan suasana itu terasa… menyenangkan. Tidak ada
sekat kaca yang membatasi. Tidak ada rasa asing. Hanya tawa ringan, suara rak
yang digeser, dan momen sederhana ketika aku menyadari bahwa aku sebenarnya
bisa menyatu dengan mereka..... jika aku mau.
Sore harinya, ketika
pengecekan selesai, Dirga menepuk pundakku.
Dirga: “Gimana, Mar?
Seru kan? Sekali-sekali turun ke dunia gue.”
Aku: tersenyum tipis “Lumayan. Capek sih,
tapi… nggak seburuk yang gue kira.”
Dirga: “Tuh kan. Hati
lo kan cuma perlu dibuka dikit.”
Anindya: menambahkan pelan “Iya, Mas. Senang bisa
kerja bareng tadi.”
Aku hanya mengangguk,
dan entah kenapa, rasa lelah itu terasa ringan. Mungkin… karena hari itu
berbeda dari biasanya.
Sore itu, setelah
pengecekan gudang selesai dan laporan rapi di tangan Pak Aksel, Dirga
mengajakku keluar.
Dirga: “Mar, ayo
ikut. Kita ke kafe bentar. Tim operasional udah nungguin di depan.”
Aku: menghela napas “Hmm… ya udah, deh.”
Kami berjalan ke kafe
kecil di seberang gedung kantor. Tempatnya sederhana, dengan aroma kopi yang
langsung menyambut saat pintu dibuka. Di sudut ruangan, Indira, Nayara, dan
Anindya sudah duduk di meja panjang, gelas es kopi dan camilan kecil berjejer di
hadapan mereka.
Indira: “Nah, ini dia
tamu spesial kita hari ini!”
Nayara: tertawa “Mas Damar akhirnya nongol di
luar jam kantor juga.”
Aku: tersenyum tipis “Hehe… iya, kebetulan
diajak Dirga.”
Aku duduk di ujung
meja, membiarkan mereka berbincang ramai.
Dirga, seperti biasa,
jadi pusat perhatian. Ia menceritakan kejadian lucu di gudang tadi, tentang
Nayara yang hampir jatuh karena tersandung kardus, lalu tentang aku yang
katanya terlalu serius menulis angka sampai nggak sadar dipanggil tiga kali.
Dirga: “Sumpah, si
Damar tuh kayak patung. Gue panggil tiga kali, dia cuma ngelirik terus balik
lagi ke catatan.”
Nayara: tertawa keras “Iya, iya! Aku liat juga.
Fokus banget kayak lagi ujian nasional!”
Anindya: menutup mulut menahan tawa “Hehe… tapi
berkat Mas Damar, data kita rapi semua.”
Aku hanya menggeleng
pelan, tersenyum kecil sambil menyesap kopi hangat di hadapanku. Suara tawa
mereka mengisi sore itu, membuat suasana terasa ringan.
Di luar jendela kafe,
langit kota mulai memerah. Cahaya matahari sore memantul di kaca gedung-gedung
tinggi, seperti kilau emas yang perlahan tenggelam.
Aku menyandarkan
punggung di kursi, membiarkan pandangan menatap mereka yang tertawa lepas. Aku
tidak banyak bicara. Tidak ikut melempar candaan seperti Dirga, atau tertawa
sekeras Nayara.
Siapa sangka, satu
berkas sederhana bisa jadi awal dari sesuatu yang belum kumengerti?
Sore itu, aku sadar satu hal sederhana
Kadang, hidup tidak berubah lewat kejadian besar. Tidak lewat pertemuan
dramatis, atau kalimat manis. Kadang, cukup lewat satu senyum yang datang tanpa
rencana. Satu nama yang tiba-tiba mulai sering terlintas di kepala.
Anindya...
Begitulah semuanya dimulai. Bukan dengan janji, bukan dengan kata
cinta, tapi dengan diam yang perlahan membuat dunia kecilku tak lagi sama.
“Kadang, kebahagiaan
tidak selalu tentang menjadi pusat tawa, tapi cukup duduk di sudut meja,
melihat mereka tertawa, dan merasa hari itu lebih hangat dari biasanya”
Aku tidak tahu apa arti semua ini.
Apakah ini hanya kebetulan?
Atau awal dari sesuatu yang lebih dalam?
Yang jelas…
untuk pertama kalinya,
ruang sunyi itu… tidak terasa sepi lagi.
Baca Part 1 disini :
Beli Buku Novelnya Klik Disini
.png)
Tidak ada komentar