Pendahuluan
Ketika Pagi Berbelok Arah
Pagi selalu datang dengan cara yang sama, sunyi, beraroma kopi, dan sedikit terburu - buru. Di meja sekretariat, aku sudah duduk sejak jam tujuh lewat lima belas. Tumpukan dokumen, bunyi kipas angin, dan denting jam dinding di pojok ruangan menjadi teman paling setia setiap awal minggu.Aku tidak pernah
menganggap pekerjaanku istimewa. Menjawab telepon, memeriksa email, mencatat
agenda rapat, semuanya berjalan seperti garis lurus yang tak pernah berubah
arah.
Sampai pada suatu
hari, garis itu sedikit berbelok. Hari itu tidak diawali dengan sesuatu yang
besar, tidak juga dengan kabar mengejutkan.
Hanya permintaan
sederhana dari atasanku, dan satu berkas lamaran yang tampak seperti
biasa.Tapi, siapa sangka… dari selembar kertas itulah, hidupku perlahan berubah
arah.
Semuanya berawal dari
Anindya.
Hari itu aku sedang
asyik memeriksa email di meja sekretariat ketika tiba-tiba Pak Aksel, atasan
langsungku, datang menghampiri.
Pak Aksel: “Mar,
tolong ini ya, periksa berkas lamaran untuk bagian operasional.”
Aku: mengernyit “Eh… untuk operasional, Pak?
Saya kan bukan HRD.”
Pak Aksel: tersenyum “Iya, saya tahu. Tapi kamu
teliti, dan saya butuh pendapatmu. Lagian, HRD lagi sibuk. Bisa, kan?”
Aku: mengangguk pelan “Iya, Pak. Nanti saya
periksa.”
Seperti biasa, aku
tidak bisa menolak. Pak Aksel memang sering memintaku membantu hal-hal di luar
job desk-ku. Tapi selama aku bisa, aku selalu mengiyakan.
Begitu beliau pergi,
aku membuka map berkas di tanganku. Beberapa lembar fotokopi ijazah,
sertifikat, dan CV rapi tersusun di dalamnya.
“Hmm…
calon karyawan cewek…” gumamku pelan sambil
membalik halaman.
Foto 3x4 di pojok
kanan atas menatap balik ke arahku. Cantik. Berhijab, senyum tipis yang entah
kenapa terasa ramah. Aku mendengus kecil sambil tersenyum sendiri.
“Lumayan
juga, ya…” ucapku lirih, nyaris seperti berbicara
pada diriku sendiri.
Tiba-tiba terdengar
suara di belakangku.
Dirga: menyandarkan siku di partisi mejaku “Eh,
Mar… senyum-senyum sendiri. Lagi baca apaan tuh?”
Aku: sedikit terkejut, buru-buru menutup map
“Hah? Oh… ini berkas lamaran karyawan baru.”
Dirga: penasaran, mendekat sambil mengintip
“Hmm… cewek, ya?”
Aku: berdehem kecil “Iya. Lumayan…”
Dirga: mengambil map dari tanganku “Eh, ini
buat operasional, ya? Wih, bisa jadi temen gue nih nanti kalau keterima.”
Aku: menghela napas, tersenyum tipis “Iya,
iya… semoga aja. Biar lo tambah rame temennya.”
Dirga: terbahak pelan “Hahaha… Asik. Nanti lo
juga ada temen senyum-senyum di kantor.”
Aku: geleng-geleng “Apaan sih…”
Aku hanya
geleng-geleng sambil menutup map itu, tapi diam-diam senyumku belum hilang.
Dua hari kemudian,
pagi-pagi sekali, aku sudah duduk di meja sekretariat ketika telepon kantor
berbunyi.
Aku: “Halo, selamat
pagi. Dengan kantor PT Cipta Budie?”
Suara di Telepon:
“Pagi, Kak. Saya Anindya… jadwal interview operasional hari ini, ya?”
Aku: “Oh, iya.
Silakan datang saja ke resepsionis, nanti diarahkan ke ruang saya.”
Tak lama kemudian,
suara pintu otomatis berbunyi.
Seorang perempuan
masuk, langkahnya tenang dan rapi. Ia mengenakan gamis biru pastel dan hijab
krem sederhana yang terlipat rapi di bahunya. Wajahnya bersih, dan senyumnya
sopan. Rambutnya tentu tersembunyi di balik hijab, tapi aura ramahnya tetap
terasa.
Aku spontan
mengenalinya dari foto di berkas lamaran. Anindya.
Di balik meja
sekretariat, aku refleks duduk lebih tegap. Sementara di sampingku, Dirga baru
saja datang dari lobi, membawa gelas kopi. Ia melirik perempuan itu dengan
tatapan penasaran.
Anindya: tersenyum sopan “Assalamualaikum, Mas.
Saya Anindya… jadwal interview operasional hari ini.”
Aku: bangkit dari kursi, berusaha terdengar ramah
“Waalaikumsalam. Silakan isi daftar hadir dulu, Mbak, nanti saya antar ke ruang
HRD.”
Anindya mengangguk,
kemudian menunduk sedikit saat menulis di buku tamu. Gerak-geriknya anggun,
tenang, berbeda dari kebanyakan pelamar yang terlihat gugup.
Dirga, yang sejak
tadi berdiri di sampingku, tiba-tiba menyenggol sikuku pelan sambil berbisik,
Dirga: “Ini yang
kemarin bikin lo senyum-senyum, ya?”
Aku: mendesis pelan “Ssst.. diem, Ga. Ntar kedengeran.”
Dirga: nyengir lebar “Wah, kalau keterima,
kantor makin adem nih…”
Aku hanya menatapnya
sekilas dan mengantar Anindya ke ruang HRD. Dalam hati, entah kenapa, aku
merasa pagi itu sedikit berbeda. Suasana kantor yang biasanya datar terasa…
lebih hangat.
Seminggu kemudian,
nama Anindya resmi terpampang di papan pengumuman karyawan baru. Sejak hari
pertama, suasana kantor terasa sedikit berbeda.
Pagi itu, aku sudah
duduk di meja sekretariat, merapikan agenda rapat mingguan, ketika suara
langkah lembut terdengar mendekat.
Anindya: tersenyum sopan “Assalamualaikum, Mas Damar.”
Aku: menoleh dan membalas senyum
“Waalaikumsalam, Mbak Anindya. Hari pertama, ya? Semangat!”
Anindya: tertawa kecil “Iya, Mas. Deg-degan juga,
sih…”
Beberapa menit
kemudian, Dirga muncul dari arah lobi sambil menenteng helm dan jaket. Begitu
melihat Anindya, matanya langsung berbinar jahil.
Dirga: “Wah, ini dia
bintang baru operasional kita!”
Anindya: menunduk malu “Hehe… jangan gitu, Mas.”
Aku: menggeleng pelan “Ga, jangan bikin takut
orang hari pertama kerja.”
Dirga: tertawa “Santai aja, Mar. Kita kan ramah
semua di sini.”
Hari-hari setelah itu
berjalan dengan ritme baru.
Penutup
Bagian ini menggambarkan awal perubahan dalam hidup Damar. Dari rutinitas yang monoton, sebuah kejadian sederhana menjadi titik awal cerita yang lebih besar.
Ini baru permulaan. Ada banyak hal yang belum Damar ceritakan… semuanya tersimpan dalam “Ruang Sunyi Kita”.
Baca Part Lainnya :
- Ruang Sunyi Kita Part 2
- Ruang Sunyi Kita Part 3

Tidak ada komentar