Kebohongan yang Menyelamatkan Ku
Karya Walies MH
Tatkala titik hitam tersesat di tengah cahaya,
aku berjalan pincang mencari arti menjadi terang.
Perjuangan ini bagai bara di telapak kaki,
perihnya diam-diam mengunyah jiwa sendiri.
Kecintaan rela kutinggalkan di persimpangan waktu,
dia yang selalu hadir saat dunia memunggungiku.
Dengan senyum yang menyimpan luka,
ia membohongi rindunya sendiri
agar langkahku tak berhenti mendaki Everest kehidupan.
Di antara dingin angin dan kabut kegagalan,
sejuk simfoni alam menetes ke relung kalbu,
membasuh letih yang hampir rebah.
Gunung-gunung seakan berbisik,
“bertahanlah, sebab badai pun lelah menghantam.”
Kini kupahami,
kebohonganmu bukanlah dusta untuk melukai,
melainkan pelindung agar aku tetap berdiri.
Dan kelak, saat puncak berhasil kugenggam,
akan kubalas seluruh pengorbanan itu
dengan mahkota kemenangan
yang kupersembahkan tepat di hadapanmu.
Makna Puisi
Tidak semua perjuangan terlihat dari langkah kaki yang berdarah atau tubuh yang kelelahan. Ada perjuangan yang berjalan diam-diam di dalam hati. Ada air mata yang jatuh tanpa suara. Dan ada pengorbanan yang disembunyikan di balik kata,
“Nak, semuanya masih cukup.”
Puisi “Kebohongan yang Menyelamatkanku” lahir dari kisah sederhana tentang seorang anak yang pergi jauh demi menuntut ilmu agama. Awalnya ia hanyalah seseorang yang tidak memahami apa-apa tentang agama. Ia tumbuh dalam keterbatasan pengetahuan, hingga akhirnya muncul keinginan untuk berubah dan belajar menjadi pribadi yang lebih baik.
Perjalanan itu tentu tidak mudah.
Ia harus meninggalkan kampung halaman, berpisah dengan orang tua dan keluarga, lalu hidup di lingkungan baru dengan rutinitas yang sangat berbeda. Hari-harinya dipenuhi perjuangan: bangun sebelum fajar, belajar hingga larut malam, hidup serba sederhana, dan menahan rindu yang sering datang diam-diam.
Namun rintangan terbesar bukan hanya tentang lelahnya belajar.
Ada masa ketika bekal mulai habis, kebutuhan semakin banyak, dan keadaan ekonomi keluarga sebenarnya sedang tidak baik-baik saja. Di saat seperti itu, sang anak sering mengabarkan kebutuhannya kepada orang tua di kampung dengan harapan sederhana: agar tetap bisa bertahan menuntut ilmu.
Dan di situlah letak cinta yang paling dalam.
Orang tua yang mungkin bahkan belum tahu esok bisa makan apa, tetap berkata,
“Tenang nak, nanti bapak kirim.”
“Atau ibu usahakan dulu.”
Mereka berbohong demi menenangkan anaknya.
Bukan karena ingin menipu, melainkan karena tidak ingin semangat anaknya runtuh di tengah perjuangan. Mereka menyimpan lapar, menahan lelah, bahkan mengorbankan kebutuhan sendiri agar anaknya tetap bisa belajar tanpa memikirkan keadaan rumah.
Puisi ini menggambarkan bagaimana doa seorang ibu, kerja keras seorang ayah, dan pengorbanan keluarga sering menjadi cahaya bagi anak yang sedang berjuang meraih masa depan. Gunung Everest dalam puisi tersebut hanyalah metafora dari beratnya perjalanan menuntut ilmu. Sedangkan “mahkota” adalah simbol keberhasilan yang suatu hari ingin dipersembahkan kepada orang tua.
Karena pada akhirnya, banyak anak berhasil berdiri di puncak bukan hanya karena usahanya sendiri, tetapi karena ada orang tua yang diam-diam menjadi akar dari setiap kekuatan.
Puisi ini juga mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan sekadar tentang mendapatkan ilmu, tetapi tentang memahami arti perjuangan, pengorbanan, dan cinta yang tidak selalu diucapkan dengan kata-kata.
Bagi siapa pun yang sedang berjuang menuntut ilmu jauh dari rumah, mungkin kisah ini terasa begitu dekat. Sebab di balik setiap anak yang bertahan dalam kerasnya pendidikan, sering ada orang tua yang sedang bertahan dalam kerasnya kehidupan.
Dan mungkin, kebohongan paling indah di dunia adalah ketika orang tua berkata,
Kami di rumah baik-baik saja,
padahal sebenarnya mereka sedang berjuang mati-matian demi masa depan anaknya.

Tidak ada komentar