Jangan Hanya Mengejar Ranking, Pastikan Anak Mengerti
Setiap kali sebuah sekolah atau daerah berhasil meraih prestasi, kita patut memberikan apresiasi. Siswa yang memenangkan olimpiade, sekolah yang memperoleh penghargaan, atau guru yang berhasil membawa anak didiknya ke berbagai kompetisi tentu merupakan capaian yang membanggakan.
Namun, di tengah euforia mengejar prestasi tersebut, ada satu pertanyaan yang seharusnya tidak boleh kita lupakan:
Apakah semua anak benar-benar memahami apa yang mereka pelajari?
Prestasi Penting, Tetapi Bukan Segalanya
Tidak ada yang salah dengan ranking, kompetisi, olimpiade, penghargaan, maupun berbagai bentuk prestasi lainnya.
Prestasi dapat menjadi motivasi. Kompetisi dapat melatih keberanian. Penghargaan dapat menjadi bentuk apresiasi terhadap kerja keras siswa dan guru.
Yang perlu dipertanyakan adalah ketika prestasi yang mudah dilihat justru menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan pendidikan.
Kita dapat dengan mudah menghitung jumlah piala yang ada di lemari sekolah. Kita dapat menghitung berapa banyak siswa yang memenangkan perlombaan. Kita dapat membuat daftar ranking sekolah.
Tetapi kita sering kesulitan mengukur sesuatu yang jauh lebih penting:
Berapa banyak anak yang benar-benar memahami pelajaran?
Berapa banyak siswa yang mampu menjelaskan kembali materi dengan bahasanya sendiri? Berapa banyak yang mampu menggunakan pengetahuan tersebut untuk menyelesaikan persoalan kehidupan nyata?
Dan yang tidak kalah penting, berapa banyak anak yang tertinggal tetapi tidak terlihat?
Anak yang Berprestasi Bukan Gambaran Seluruh Anak
Dalam sebuah sekolah, sangat mungkin terdapat beberapa siswa yang memiliki kemampuan akademik luar biasa. Mereka mengikuti pembinaan, lomba, olimpiade, dan berbagai kompetisi.
Ketika mereka menang, nama sekolah ikut terangkat. Itu adalah hal yang baik dan patut diapresiasi.
Tetapi jangan sampai keberhasilan beberapa anak membuat kita lupa kepada puluhan anak lainnya yang mungkin masih kesulitan memahami pelajaran dasar.
Sebab pendidikan bukan hanya tentang membawa anak yang sudah kuat menjadi semakin kuat.
Pendidikan juga tentang memastikan anak yang tertinggal mendapatkan kesempatan untuk mengejar.
Anak yang cepat memahami materi tentu membutuhkan tantangan. Tetapi anak yang belum memahami materi membutuhkan perhatian yang tidak kalah besar.
Kalau seorang siswa mendapatkan nilai tinggi, kita seharusnya tidak hanya bertanya, "Berapa nilainya?"
Kita juga perlu bertanya:
"Apa yang sebenarnya sudah ia pahami?"
Begitu pula ketika seorang siswa mendapatkan nilai rendah. Pertanyaannya bukan semata-mata, "Mengapa nilainya rendah?"
Tetapi:
"Bagian mana yang belum ia pahami, dan apa yang sudah kita lakukan untuk membantunya?"
Pendidikan Tidak Boleh Hanya Mengejar Angka
Angka memang diperlukan. Nilai diperlukan untuk memberikan gambaran tentang pencapaian belajar. Evaluasi diperlukan untuk mengetahui perkembangan siswa.
Tetapi angka bukanlah pendidikan itu sendiri.
Seorang anak bisa mendapatkan nilai 90, tetapi belum tentu mampu menjelaskan kembali materi yang dipelajarinya.
Sebaliknya, seorang anak yang nilainya belum tinggi bukan berarti ia tidak memiliki potensi.
Karena itu, jangan sampai sistem pendidikan membuat guru lebih sibuk mengejar ketuntasan administrasi daripada memastikan ketuntasan pemahaman siswa.
Jangan sampai sekolah lebih sibuk mempersiapkan siswa untuk menghadapi ujian daripada membangun kemampuan mereka untuk menghadapi kehidupan.
Dan jangan sampai kita terlalu sibuk mengejar apa yang dapat dipamerkan kepada publik, sementara persoalan yang terjadi di dalam kelas tidak mendapatkan perhatian yang cukup.
Bagaimana dengan Pendidikan di Aceh?
Aceh memiliki banyak potensi. Banyak anak Aceh yang berprestasi. Banyak guru yang bekerja dengan penuh dedikasi. Banyak sekolah yang terus berusaha meningkatkan kualitas pendidikan.
Karena itu, kritik terhadap pendidikan Aceh seharusnya bukan dimaknai sebagai upaya merendahkan Aceh.
Sebaliknya, kritik diperlukan karena kita ingin pendidikan Aceh menjadi lebih baik.
Kita boleh bermimpi memiliki sekolah yang berprestasi di tingkat nasional. Kita boleh bermimpi memiliki siswa yang memenangkan kompetisi internasional. Kita boleh mengejar ranking dan berbagai bentuk pengakuan.
Tetapi jangan lupa dengan sekolah yang berada jauh dari pusat kota.
Jangan lupa dengan anak yang fasilitas belajarnya terbatas.
Jangan lupa dengan siswa yang membutuhkan waktu lebih lama untuk memahami materi.
Jangan lupa dengan anak yang sebenarnya memiliki potensi, tetapi tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk menunjukkannya.
Sebab kualitas pendidikan Aceh tidak seharusnya hanya terlihat dari puncak gunung prestasi, tetapi juga dari seberapa kecil kesenjangan yang terjadi di bawahnya.
Kita Perlu Mengubah Cara Melihat Keberhasilan
Mungkin sudah waktunya kita memperluas definisi tentang sekolah yang berhasil.
Sekolah yang berhasil bukan hanya sekolah yang menghasilkan banyak juara.
Sekolah yang berhasil juga adalah sekolah yang mampu membuat anak yang awalnya tidak bisa membaca menjadi mampu membaca.
Sekolah yang berhasil adalah sekolah yang membuat anak yang takut bertanya menjadi berani bertanya.
Sekolah yang berhasil adalah sekolah yang membantu siswa yang tertinggal untuk mengejar ketertinggalannya.
Sekolah yang berhasil adalah sekolah yang membuat anak memahami bahwa belajar bukan sekadar mendapatkan nilai, tetapi memahami dunia di sekitarnya.
Dan sekolah yang benar-benar hebat adalah sekolah yang tidak meninggalkan anak hanya karena anak tersebut tidak termasuk dalam kelompok yang berprestasi.
Merdeka Bukan Hanya dari Penjajahan
Setiap tahun kita memperingati kemerdekaan Indonesia. Kita mengibarkan bendera merah putih, mengikuti upacara, mengadakan berbagai perlombaan, dan kembali mengingat perjuangan para pendahulu bangsa.
Namun kemerdekaan seharusnya tidak berhenti pada seremoni.
Kemerdekaan juga seharusnya tercermin dalam pendidikan.
Anak-anak Indonesia harus merdeka untuk belajar.
Merdeka untuk bertanya.
Merdeka untuk melakukan kesalahan dan memperbaikinya.
Merdeka untuk berkembang sesuai potensinya.
Dan yang paling penting, tidak boleh ada anak yang kehilangan kesempatan mendapatkan pendidikan berkualitas hanya karena ia lahir di tempat yang berbeda, berasal dari keluarga yang berbeda, atau bersekolah di tempat yang memiliki fasilitas berbeda.
Karena kalau pendidikan yang berkualitas hanya dapat dinikmati oleh sebagian anak, maka kita masih memiliki pekerjaan besar untuk mewujudkan pendidikan yang benar-benar adil.
Jangan Hanya Bertanya Siapa yang Juara
Mungkin sudah saatnya setiap akhir tahun kita tidak hanya bertanya:
- Sekolah mana yang ranking pertama?
- Siapa yang mendapat nilai tertinggi?
- Berapa banyak medali yang diperoleh?
Tetapi juga bertanya:
- Berapa banyak anak yang benar-benar memahami apa yang telah dipelajari?
- Berapa banyak anak yang berhasil kita bantu ketika mereka mengalami kesulitan?
- Berapa banyak anak yang sebelumnya tertinggal, kemudian berhasil mengejar?
- Apakah pendidikan kita sudah memberikan kesempatan yang adil kepada semua anak?
Sebab pada akhirnya, keberhasilan pendidikan bukan hanya ketika beberapa anak mampu berdiri di atas panggung menerima piala.
Keberhasilan pendidikan adalah ketika anak-anak yang tidak pernah naik ke panggung pun tetap mendapatkan pengetahuan yang cukup untuk menjalani kehidupannya dengan percaya diri.
Piala Bisa Dipajang, Pemahaman Dibawa Seumur Hidup
Piala bisa dipajang di lemari. Medali bisa dikalungkan. Ranking bisa ditulis dalam daftar.
Tetapi pemahaman, karakter, kemampuan berpikir, dan pengetahuan yang melekat pada diri seorang anak akan mereka bawa jauh setelah mereka meninggalkan sekolah.
Maka, mari kita tetap mengejar prestasi. Tetaplah berkompetisi. Tetaplah membangun sekolah-sekolah unggulan.
Tetapi jangan sampai kita lupa pada tujuan paling dasar pendidikan:
Bukan sekadar membuat anak terlihat pintar, tetapi benar-benar membuat mereka menjadi tahu, paham, mampu, dan terus mau belajar.
Karena itu, di tengah semangat memperingati kemerdekaan Indonesia, mungkin sudah waktunya kita melihat kembali pendidikan dari sudut pandang yang lebih sederhana:
Jangan hanya mengejar ranking. Pastikan anak mengerti.

Tidak ada komentar